Aku adalah seorang gadis remaja yang sehari-harinya berada di pergaulan laki-laki. Ya sebagian besar dari temanku adalah laki-laki. Bukan, bukannya aku tidak punya teman perempuan, tapi ketika aku berada di lingkungan lawan jenis, itu sangat terasa berbeda. Tak jarang aku menjadi perempuan "brengsek" karena itulah hasil dari aku yang bergaul dengan sebagian besar laki-laki. Tawa-tiwi duniawi yang keindahannya tidak ada janji abadi terhadap itu, aku tahu ini hanya sesaat.Tapi biarlah aku menulis dalam sejarah kehidupan ku "pernah menjadi wanita brengsek"
Kalian tahu, kenapa beberapa kali aku menyebut kata brengsek? Karena laki-laki tidak akan pusing jika ada wanita yang mereka incar menolak, mereka punya segudang cadangan wanita lainnya. Kebetulan aku berada dilingkungan laki-laki yang mengerti bagaimana meluluhkan hati perempuan pujangga cinta.Tapi satu hal yang harus kalian tau, mereka mungkin brengsek, tapi mereka tahu cara bermain hati dengan wanita tanpa menyakiti walau penuh intrik dibelakangnya. Dunia ini keras! Kehidupan-pun sangat keras! Menurutku sebelum benar-benar ada yang namanya ikatan suci, kebrengsekan antara laki-laki -- perempuan maupun sebaliknya akan menjadi sejarah hidup yang unik.
*****
Seiringnya waktu berjalan, usai aku menyelesaikan pendidikan ku ditingkat menengah dan mengucapkan selamat datang kepada lembar kehidupan baru, yaitu ketika aku menjadi mahasiswa. Dijenjang baru ini aku mengenalnya. dia seorang laki-laki supel yang mudah bergaul, tubuhnya yang gagah, pengalamanya yang hebat. dia adalah seorang pendaki yang punya hobi fotografi, "gambar adalah memori yang terdapat banyak lisan didalamnya" katanya. Tujuan dia berpetualang yaitu melihatkan sudut dunia kepada manusia didunia ini yang dia abadikan melalui mata lensanya.
Saling mengirim pesan dengannya telah menjadi bagian hari-hariku, aku dan dia bisa terlihat sebagai sepasang kekasih, terkadang terlihat sebagai sahabat, terkadang bisa juga terlihat seperti teman biasa, tergantung pikiran kami yang sama-sama liar. Perempuan pujangga cinta menyebut kisahku "itu hanya musiman" : musim kabar darinya dan nanti ada musim tidak ada lagi kabar darinya. Aku tahu itu, aku mengenalnya dan jika nanti sedang musim tidak ada lagi kabar darinya, aku tidak akan pusing seperti perempuan pujangga cinta yang mendengarkan lagu sendu, menulis kalimat rindu di situs sosial, menatap fotonya, membaca-baca kembali pesannya dan hal-hal galau perempuan pujangga cinta lainnya. Salah besar juga jika dia sang petualang itu menganggapku sama seperti perempuan pujangga cinta, aku memang kehilangan sosoknya tapi ingat dibelangkangku penuh intrik, akupun punya cadangan laki-laki brengsek lainnya.
Namun, ada satu hal yang membuat aku lega tentangnya, yaitu hanya kepadaku dia mengeluhkan keluh kesahnya yang sedang dialaminya. Lalu aku balas keluh kesahnya dengan kelembutan seorang peremuan yang dicampur kekonyolan, setidaknya aku tahu karenaku dia tertawa dan dia tahu hanya kepadaku bisa dengan nyaman bercerita. Jika ini sebuah permainan, mari kita lihat siapa yang akan memenangkan ini, siapa yang akan terjebak, aku yang terjebak dalam permainannya atau dia yang akan terjebak dalam permainanku.
Selamat menikmati kehidupan Brengsek ini Sayang.
Comments