4 hari kebalakang ini adalah hari dimana aku tidak mengerti siapa aku,
hari dimana aku tidak mengerti kemana tujuanku
disetiap harinya, aku berjalan menulusuri liku kehidupan, dimana setiap liku aku berhadapan dengan tembok penghalang yang sangat besar dan kokoh. aku selalu menghidar mencari jalan lain, namun tembok itu seperti fatamorgana dalam perjalanan ku.selalu ada dan selalu ada. akuhanya selalu menghindar dan selalu menghidar.
sampai dimana aku tiba dititik jenuh. aku lelah dengan semua perjalanan ini. setiap harinya aku hanya duduk termangu lalu pada akhirnya mataku terpejam memaksaku bertemu dengan hari lain, dan aku masih dengan kondisi yang sama. ironis.
sesekali aku mencoba keluar dari kondisi ini, mencari situasi baru, mencari cahaya baru untuk menuntunku jalan dan mengembalikan kekuatanku yang hampir habis terkuras.
ya mungkin aku butuh 'senang-senang'. pada detik itu aku meninggalkan tuhan, aku asik dengan diriku sendiri, membiarkan para setan berbisik hingga berteriak bebas dikepalaku. dengan sukses mereka membuatku menjadi pribadi yang liar.
bahagiaku bertambah saat itu karena ada dia. hanya aku dan dia and he got my smile perfectly
akhirnya aku mendapatkan kesenangan ku. kesenangan yang aku anggap benar, kesenangan yang memang untukku, kesenangan yang selama ini tuhan mencoba melarangku. (siapa aku sekarang?)
aku selalu membenci waktu yang memaksaku mengakhir kesenanganku, dengan langkah berat menuju kamar gelap itu kembali, namun pikiranku masih mengulang-ngulang kesenangan yang aku lakukan tadi. aku merasa terapung sekarang, sebagian dari jiwaku menarikku untuk kembali ke liku yang membosankan itu dan sebagian lainnya memaksaku untuk tetap tinggal berasama kenangan kesenanganku hari itu. (bahagiakah aku sekarang?)
mulai sayup-sayup kudengar tangisan bayi anak tetanggaku melengking nyaring, aku terbangun namun masih terapung. aku seperti orang yang baru tercandu obat. beberapa waktu kemudian, aku baru sadar bahwa kemarin itu telah berlalu, lalu hari ini? (harus kemana aku sekarang?)
hari dimana aku tidak mengerti kemana tujuanku
disetiap harinya, aku berjalan menulusuri liku kehidupan, dimana setiap liku aku berhadapan dengan tembok penghalang yang sangat besar dan kokoh. aku selalu menghidar mencari jalan lain, namun tembok itu seperti fatamorgana dalam perjalanan ku.selalu ada dan selalu ada. akuhanya selalu menghindar dan selalu menghidar.
sampai dimana aku tiba dititik jenuh. aku lelah dengan semua perjalanan ini. setiap harinya aku hanya duduk termangu lalu pada akhirnya mataku terpejam memaksaku bertemu dengan hari lain, dan aku masih dengan kondisi yang sama. ironis.
sesekali aku mencoba keluar dari kondisi ini, mencari situasi baru, mencari cahaya baru untuk menuntunku jalan dan mengembalikan kekuatanku yang hampir habis terkuras.
ya mungkin aku butuh 'senang-senang'. pada detik itu aku meninggalkan tuhan, aku asik dengan diriku sendiri, membiarkan para setan berbisik hingga berteriak bebas dikepalaku. dengan sukses mereka membuatku menjadi pribadi yang liar.
aku menikmatinya, memejamkan mata sesekali sambil bergoyang.
mengangkat tangan, meminum minuman yang terasa pahit dilidah, dan panas ditenggorokkan,
lalu ku hapus pergi bersama asap dari batangan yang aku bakar.
aku bahagia walau sesaat.
akhirnya aku mendapatkan kesenangan ku. kesenangan yang aku anggap benar, kesenangan yang memang untukku, kesenangan yang selama ini tuhan mencoba melarangku. (siapa aku sekarang?)
aku selalu membenci waktu yang memaksaku mengakhir kesenanganku, dengan langkah berat menuju kamar gelap itu kembali, namun pikiranku masih mengulang-ngulang kesenangan yang aku lakukan tadi. aku merasa terapung sekarang, sebagian dari jiwaku menarikku untuk kembali ke liku yang membosankan itu dan sebagian lainnya memaksaku untuk tetap tinggal berasama kenangan kesenanganku hari itu. (bahagiakah aku sekarang?)
*****
mulai sayup-sayup kudengar tangisan bayi anak tetanggaku melengking nyaring, aku terbangun namun masih terapung. aku seperti orang yang baru tercandu obat. beberapa waktu kemudian, aku baru sadar bahwa kemarin itu telah berlalu, lalu hari ini? (harus kemana aku sekarang?)
Comments