mulai sayup-sayup kudengar tangisan bayi anak tetanggaku melengking nyaring, aku terbangun namun masih terapung. aku seperti orang yang baru tercandu obat. beberapa waktu kemudian, aku baru sadar bawah kemarin itu telah berlalu, lalu hari ini? (harus kemana aku sekarang?)
detak jam yang kian membosankan, memaksaku melirik ke telepon genggamku, mengecek kabar dunia, dan hei ada bunyi tanda pesan masuk. hmm ternyata itu dari kakak ku, dia mengajakku bertemu hari ini, memintaku bertukar pikiran dengannya.
dia menanyakan kabar ku, memancingku dengan pengalamannya, menunggu responku sambil berharap aku bercerita ada apa denganku. tapi aku hanya tetap diam dan tersenyum seadanya. sekali lagi dia mencoba memancingku dengan berkata "besok saya mau ke surabaya, ceritanya saya ketemu kamu hari ini mau pamit." tersentak aku mendengarnya, keheningan yang tiba-tiba melanda pikiran dan sekelilingku
kemana aku selama ini? asik dengan ego ku dan ternyata banyak yang dengan sengaja aku lewati.
mataku memerah, pipiku basah, dan hatiku teriris.
akhirnya aku meluapkan segalanya, aku kecewa dengan mimpiku, aku mempunyai cita-cita besar tapi itu tak kunjung terwujud, aku mulai ragu, aku mulai lelah, aku mulai menyerah.
dan aku mulai terisak.
dan aku mulai terisak.
dia menanyakan apa yang membuatku sedih.
yaa, aku sedih karena sudah mengenal harapan.
dia menangkanku dengan penyampaiannya yang sempurna "saya janji, akan membuat itu terwujud, memenuhi harapanmu, tapi saya butuh kamu, kamu yang tenang, kamu yang semangat!"
yaa, aku sedih karena sudah mengenal harapan.
dia menangkanku dengan penyampaiannya yang sempurna "saya janji, akan membuat itu terwujud, memenuhi harapanmu, tapi saya butuh kamu, kamu yang tenang, kamu yang semangat!"
*****
tersadar isakku mulai reda, sekarang yang terngiang dikepalaku adalah ucapannya. dalam perjalananku menuju kampus, ku tengok jendela memandangi entah apa, mataku ada dipikiranku sekarang mengingat semua yang terjadi hari ini.
"kamu punya cita-cita yang besar, harapan yang besar, jadi tolong jangan berhenti sekarang. bantu saya mewujudkan harapanmu. saya hanya ingin kamu tenang, cari ketenganmu diluar sana, tapi ingat tolong lakukan dengan kondisi sadar. jangan kamu lari karena hanya akan membuat kembali pada titik masalah yang sama."
aku kembali dari pelamunanku, membuka mata pikiranku, menyelamatkan malaikat yang selama ini dikurung paksa dan dia berkata "jangan menyerah sekarang, itu sama saja seperti bunuh diri. mendahului takdir tuhan. hari ini ya hari ini, tapi kamu bukan tuhan, hari esok mu ditulis indah ditangannya, jadi jangan dulu kamu dahului takdirnya. bersabarlah"
*****
lagi-lagi bunyi pesan masuk mengembalikan sadarku, ternyata itu pesan dari kakak ku "besok saya berangkat, baik-baik ya kamu disini". kembali aku tersentak, pipiku kembali basah, kupejamkan mataku dan aku janji dalam hati akan baik-baik saja sampai nanti ketika dia kembali dan aku menagih janjinya.
jalan liku itu kini semakin jelas, fatamorgana yang juga menghilang. aku seperti baru merapihkan benang kusut dikepalaku. aku tau siapa aku dan aku tau harus kemana aku.
"cita-citaku besar, harapan ku juga besar, dan mental ku harus sebesar cita-cita dan harapanku"
Comments