Jam 5 sore, di kota yang padat ini aku gas kencang motorku, aku salip setiap celah untuk aku lewati, aku gas dengan ganas setiap ada kendaraan yang berjalan lambat, aku pasang volume musik level tinggi, lalu berteriak-teriak aku dijalan sesuai lagu yang berputar. Peduli setan jika aku terlihat seperti orang gila, aku tahu banyak lirikan aneh padaku. Untuk ukuran jalanan yang padat hanya orang tuli dan bos-bos dimobil berlapis kaca film yang tidak dengar teriakanku. Hatiku sedang membara, jiwaku sedang liar. Tidak pernah aku sekesal ini, bukan karena orang lain, tapi aku kesal pada aku. Ya diriku sendiri. Aku ini laki-laki berjiwa brengsek tadinya, tapi sial ada perempuan yang aku tahu dia sama brengseknya dengan ku, telah menyulapku menjadi laki-laki pengemis cinta.
Aku selalu menjadi tidak berdaya karenanya. Seberapa sering pun dia membuatku kesal, seberapa sering pun dia membuatku jengkel, herannya aku selalu menanti pesan darinya, aku selalu menanti teleponku berdering dan itu dari nya, aku selalu menanti candaan aku dengannya melalui jaringan internet saat kami berdua menjadi penunggu malam alias insomnia. AH! Kenapa aku ini?
Hari ini aku benar-benar menjadi orang lain, bukan aku yang seharusnya. Semuanya hanyalah kedokku untuk menupi perasaan yang begitu membara ini. Entah sejak kapan aku sampai begitu membara, saat lagi-lagi aku tidak dapat menolak ajakannya untuk menemaninya makan siang di tempat favorit kami, di daerah bulungan. Saat aku sedang asik menikmati waktu ku denganmu siang ini, tiba-tiba sang ayam jantanmu itu mengampiri mu, dan didepan mataku, dia memelukmu dan mengecup keningmu lalu kau berikan padanya senyum terindahmu yang sangat jarang aku lihat dan itu kau berikan kepada si ayam jantanmu itu. Hatiku mati rasa, tubuhku melayang tersesat jauh ke planet lain, rasanya benar-benar ingin aku keluar dari bumi ini. Saat itu semuanya adalah palsu. Tawaku palsu, oboralnku palsu, tatapanku palsu, semuanya palsu! pikiranku yang sebenarnya sudah berada di planet mars sampai akhirnya sebongkah meteor meledakkan pikiranku. lalu aku mencoba kembali menyatu dengan jiwaku yang sebetulnya sedang membara dan semakin membara melihat pasangan ayam ini yang sedang berkicau mesra mencoba mengajakku memasuki dunia mereka. CIH!
Aku pukul drumku sekencang-kencang sampai malaikat cinta yang merasukiku keluar dari tubuh ini karena gaduh. Iramanya kacau sesuai dengan hatiku yang sama-sama kacau. Tidak ada suara yang aku dengar selain irama kacau dari drum ku, akan terus aku pukuli drum ini sekencang-kencangnya walau ibuku berteriak, adik kecilku menangis, ayahku menggedor kamarku, ataupun sampai tetangga yang mungkin tiba-tiba berduyun-duyun sambil membawa obor memaksaku untuk berhenti dan mungkin menyeretku keluar dari perumahan ini, tragis. (maaf, pikiranku memang sedang agak berlebihan.)
Saat stick drumku mulai terpental dan terbelah jadi dua, detik itu juga aku mengakhir kacaunya permainanku. Nafasku terengah-engah, tubuhku lengket berkeringat. Lalu aku mulai berdiri dan mengambil handphonku di tas yang sengaja aku silent. Ternyata ada 10 panggilan tak terjawab, dan 1 pesan masuk. Itu semua dari nama yang sama, semuanya dari Clara. aku baca pesan darinya, "kamu dimana? :(". Ah apalagi ini, kenapa harus ada icon sedih dibelakang nya. aku hanya menjawab "dirumah, kenapa?". beberapa detik, beberapa menit aku tunggu jawabannya dan pesannya pun masuk. "aku didepan rumah kamu van.." HAH! Aku buka jendela kamarku dan ternyata benar, aku melihat dia menatap sedih ke arahku. Langsung aku bergegas turun, lalu saat aku membuka pagar, dia langsung lari kearahku dan memeluk tubuhku. Dia menangis sesegukkan dipelukanku. Dengan suara yang masih parau clara bercerita duka, ibunya yang sedang tugas di jogja, tewas saat dalam perjalanan pulang menuju jakarta. Malam yang gelap pun menjadi kelabu.
Aku yang brengsek ini berjanji pada perempuanku yang masih menangis didepanku, "Apapun yang terjadi, bahkan walaupun masih ada si ayam jantan mu yang telah membuatmu menjadi ayam juga saat kamu bersamanya. Aku janji selalu akan ada buat kamu clar.." -- Janji ini aku ukir pada darah yang sedang mengalir bebas ditubuhku.
Comments