Sejenak aku rebahkan tubuhku diatas alas empuk dikamarku. Melepaskan kelelahan hidup ini, sambil menghirup udara normal setelah semua ketidak normalan seharian ini. Sejak dulu salah satu sisi kamarku dengan sengaja aku penuhi dengan gambar memori kehidupan ku. Sudah lama aku tidak menengok gambar-gambar itu , sejak aku mulai mengenal kehidupan yang tidak normal ini. Kehidupan normal disini maksudku hidupku bebas tanpa harus memikirkan waktu yang membatasiku dan waktu yang tetap diam tenang berputar, tidak seperti sekarang yang tidak hentinya mengejarku.
Aku dudukan tubuhku, sebelum aku jatuh dalam perebahannya. Ingin sekali aku memandangi diriku dan beberapa orang penting didalamnya didalam sebuah gambar yang aku cetak, karena tidak mau aku melupakan semua kenangan dikala bebasku dulu. Satu-persatu aku pandangi, tersenyum-senyum sendiri melihatnya sambil mengingat kembali kejadian waktu dulu. Sampai akhirnya pandanganku terhenti pada satu foto yang warnanya mulai pudar, gambar diriku dengan... ya salah satu pria terbaik dalam hidup ku.
Saat itu umurku 5 tahun, aku dengan dia adalah teman kecil, kebetulan rumah kami sebelahan. Pria itu Vano namanya. Dulu tidak jarang aku habiskan waktu seharianku bermain bersamanya, kalau bukan aku yang main kerumahnya, ya dia yang main dirumahku. Sampai-sampai seringkali kami melewatkan waktu tidur siang kami. saat dia sedang pergi bersamanya, aku menjadi anak yang cengeng, manja dan nyebelin. itulah caraku menujunjukkan bahwa aku sedang kesepian. aku yang butuh teman. aku butuh vano.
Semakin hari, dan bergantinya tahun, kami semakin dekat. Vano adalah orang yang paling mengerti bagaimana aku, begitupun aku sangat mengerti bagaimana vano. Sampai-sampai diumur belia kami, aku dan vano membuat kesepakatan untuk terus satu sekolah. Ketika kami menjadi siswa sekolah dasar, kegiatan yang paling kami benci adalah pramuka, menurut kami itu kegiatan konyol dan terlalu banyak aturan.
Suatu ketika sekolah kami mengadakan kunjungan ke cibubur untuk melatih jiwa pramuka kami. Ya, pada dasarnya aku dan vano adalah manusia yang menyukai kebebasan, kami suka suasana disana, banyak pohon rindang, angin sepoi-sepoi, burung-burung bernyanyi merdu, damai sekali. Akhirnya saat ada kesempatan kami melarikan diri dari kegiatan pramuka itu, dan kami agak sedikit berlari karena takut ketahuan. (Sampai saat ini aku masih ingat hangatnya tangan vano saat dia memegang tanganku pertama kali ketika kami berlari.) Berlari - tertawa - saling menggoda, mewarnai kami hari itu. sayangnya, kenakalan kami pun berakhir, seorang kakak pembina menghampiri kami, dia marah bercampur khawatir. Ternyata semua orang mencari kami.
Dengan berat hati kami harus menjalani hukuman atas kenakalan kami. Aku dan vano dijemur seharian sambil hormat kepada bendera merah putih. Lalu tiba-tiba awan mulai mendung, awalnya setetes akhirnya ribuan air hujan membasahi kami. Vano mulai meliriku dan menggodaku, dengan posisi tangan tetap hormat dan kebasahan, kami malah mengisinya dengan tawa dan ide nakal kami muncul lagi ; Kami malah bermain hujan, berlari-lari dan tertawa menikmati massa. Itu lah bahagia kami. Gambar pose kami sedang dihukum itupun aku ambil dari mading sekolah.
Tamat sekolah menengah pertama, aku diajak orang tuaku pindah ke bandung. Sejak itu aku kehilangan kabar vano. hmm Aku rindu masa polosku, aku rindu masa bebas tanpa bebanku. semakin dewasa beban hidup juga semakin bertambah. Aku rindu masa kecilku. Aku rindu Vano teramat sangat. Air mata ku pun mulai membasahi pipiku, saat aku sadar telepon genggam ku berbunyi. Ada pesan masuk:
"Hai clar, apa kabar? Vano"
Comments