Waisak tahun ini merupakan rekam jejak pertama saya melakukan perjalanan jauh sendiri. Jakarta - Jogja - Magelang - Jogja - Jakarta. Menghadiri perayaan besar umat Budha ini sudah menjadi resolusi saya di 2013.
Perjalanan dimulai dengan kereta bisnis, bangku yg sedikit lebih baik dari ekonomi namun tak menghilangkan suasana ekonomi. Suasana ekonomi yang udara keluar masuk dari jendela yang seadanya, lapak koran untuk tidur di koridor, namun suasana merakyat yang masih kental: Tegur sapa antar penumpang, berbincang klasik, lalu tidur menikmati pemandangan malam.
STASIUN TUGU, JOGJAKARTA
Sekitar pukul 05.00 AM, akhirnya sampai juga di Jogja. Meregangkan badan sedikit, lalu mencari tempat duduk sambil menunggu matahari mengeluarkan sinarnya. 45 menit kemudian, saya memutuskan untuk berjalan-jalan sedikit ke sekitar jalan malioboro, merasakan udara pagi Jogja. Ada beberapa kelompok backpacker terlihat, mungkin mereka juga punya tujuan yang sama.
Setelah jalanan malioboro mulai ramai, saya putuskan untuk ke Guest House yang sudah saya booking lama untuk hari itu, lalu langsung menyewa motor untuk melanjutkan perjalanan ke Borobudur. Perasaan senang bercampur khawatir memulai perjalanan menuju borobur. Kenapa khawatir? Karena saya benar-benar buta jalanan Jogja-Magelang. Tepat jam 10 pagi, perjalanan Jogja-Magelang dimulai. Selain modal bertanya arah, untungnya petunjuk jalan di jogja cukup jelas. Menelusuri jalan Magelang, lalu melewati pintu perbatasan Jogja-Jawa Tengah, akhirnya petunjuk jalan semakin jelas dan langsung ke borobudur. Sekitar pukul 12.00, akhirnya saya tiba di borobodur.
BOROBUDUR - MAGELANG, JAWA TENGAH
Borobudur saat itu cukup ramai dikunjungi wisatawan: dari study tour anak sekolah, arisan keluarga, sekumpulan anak muda kota besar - berbondong-bondong meramaikan borobudur.
Untuk upacara waisak sendiri dimulai pukul 18.00, jadi masih ada sekitar 6 jam lagi untuk puncak ibadah waisak. sekitar pukul 15.00 rombongan umat budha yang melakukan ibadah dari candi mendut mulai berdatangan, lalu memasuki tenda-tenda yang sudah di sediakan di halaman borobudur untuk prosesi doa berikutnya
Sebagian biksu pun juga mulai turun dari candi borobur untuk mengikuti prosesi ibadah bersama umat budha lainnya.
Singkat cerita tentang perayaan Waisak sendiri. Waisak diadakan setiap bulan Mei di waktu terang bulan Purnama Sidhi, untuk memperingati 3 peristiwa penting atau dikenal dengan Trisuci Waisak, diantaranya (sumber Wikipedia):
- Lahirnya Pangeran Siddharta di Taman Lumbini pada tahun 623 S.M.,
- Pangeran Siddharta mencapai Penerangan Agung dan menjadi Buddha di Buddha-Gaya (Bodhgaya) pada usia 35 tahun pada tahun 588 S.M.
- Buddha Gautama parinibbana (wafat) di Kusinara pada usia 80 tahun pada tahun 543 S.M.
Kenapa di borobudur? Menurut keputusan World Fellowship Buddhist (WFB), perayaan waisak di indonesia dipusatkan di candi Borobudur. Perayaan ini berujung pada penerbangan lampion sebagai bentuk harapan dan doa umat kepada budha.
Saya akui jumlah pengunjung wisatawan saat itu lebih banyak dibanding umat budha yang beribadah. Acara perayaan ibadah yang sayangnya salah ditafsirkan oleh para wisatawan yang datang pada hari itu. Kata orang, momentum waisak sendiri memang penuh kedamaian, bahkan bisa dirasakan hanya dari hasil gambar yang terekam. Namun sekali lagi, Waisak adalah hari besar untuk ibadah secara khusuk, bukan acara hiburan untuk dinikmati seenaknya. Waisak tetap punya aturan, Waisak tetap hari suci yang harus dihargai.
Prosesi dimulai dengan masuknya perwakilan biksu-biksu dari bagian dunia yang memiliki jumlah umat budha yang cukup besar, lalu seharusnya dilanjutkan sambutan dan doa, setelah itu para biksu dan umat budha mengelilingi borobudur, dan yang terakhir dan paling dinanti, penerbangan lampion.
Memang betul acara sedikit mundur dari seharusnya, karena menunggu beberapa tokoh dari pemerintahan yang telat hadir. Cuaca saat itu pun mulai mendung dan sedikit demi sedikit air hujan mulai jatuh.Beberapa lama kemudian bukan lagi gerimis, air hujan mulai mengguyur komplek candi borobudur, prosesi doa tetap dilanjutkan, namun wisatawan mulai gaduh. Wisatawan mulai mendekati dan menaiki altar dimana sedang terjadi prosesi doa, mengambil gambar dari jarak yang tidak seharusnya. Berulang kali moderator mengingatkan untuk tetap tenang dan tidak mendekati altar, namun tetap tidak didengar oleh wisatawan. Hingga pukul 23.00 hujan tak kunjung berhenti bahkan semakin deras. Penerbangan lampion pun diputuskan ditunda malam itu. Wisatawan satu persatu mulai meninggalkan komplek borobudur. Budha seperti kecewa, dan seperti enggan untuk dilanjutkan.
Jika ditanya kecewa, iya saya sangat kecewa. kecewa karna semakin krisisnya toleransi. Kecewa seperti tiada lagi rasa hormat, kecewa karena telah merusak hari besar umat budha. Melalui tulisan ini pun saya menyesali atas segala kekacauan saat itu. Semoga manusia masih bisa belajar, tidak lupa untuk tetap menghargai, dan jadilah seperti umat yang beribadah ketika menghadiri perayaan besar agama apapun itu.

Comments
Btw, sama gw juga kecewa plus malu krn jadi bagian dari para turis hipster itu... Harapan akan menyaksikan khusyuknya prosesi perayaan waisak terbesar di Indonesia kandas oleh ulah turis hipster yang kurang paham arti hari besar bagi umat budha ini... T_T