Kepada
seseorang yang selalu kuinginkan untuk dimiliki.
Kepada
seseorang yang selalu membuatku tersenyum dikala sendu ku
Kepada
seseorang yang selalu aku anggap ada…
*****
Entah
apa ini. mungkin aku terlalu sibuk membangun duniaku. Berkhayal, bermimpi, dan
berharap tentangmu. Tentang aku dan kamu.
Aku
terlalu asik menanggapi perasaanku,
yang
selalu bahagia ketika mendapat pesan darimu. Aku terlalu menikmati alur pembicaraan
kita, yang selalu membuatku berseri selayaknya orang jatuh cinta.
Sampai
ketika hari itu tiba, hari yang selama ini aku khayalkan. Yaitu hari dimana
kamu menyapa perasaanku, memintanya untuk menjadi pasanganmu dengan ikatan yang
disebut “pacar”. Lucunya kamu kembali mencoba
mengabaikan dan membuatnya hening, dengan jawaban yang selalu singkat saat aku
membalas sapamu, yang saat itu aku tahu kamu ingin menarik kembali sapaanmu. aku
tau kamu menyesal. Tapi tenang aku tau apa yang harus aku jawab.
Pada
kasus ini, aku bingung kepada siapa aku bisa menyalahkan? Kamu atau pergaulan
yang juga salah?
Bebasnya
pergaulan saat ini, membuatku bisa mengecilkan harapanku tentangmu.
Aku
berusaha mengikuti kamu sebagai anak "jaman sekarang", aku berusaha
menyesuaikan pergaulanmu saat ini. Terkadang aku menyesal karena sudah terlau
jauh mengenalmu. Aku yang sudah terjebak dalam lingkaran hatimu.
Sebagai
perempuan yang terlalu polos, aku takut kehilangan bahagiaku yaitu kamu.
Bukan,
bukannya aku tidak mau menanyai kabarmu terlebih dahulu melalu pesan singkat
itu, aku takut kamu yang belum cukup mengenalku merasa aneh dan menjauh.
yaa,
mungkin aku terjebak oleh pikiranku sendiri. tidak seperti kamu yang bebas
dalam berpikir.
Aku
sadar, bahwa saat itu, ketika aku terus-terusan mendapat pesanmu lalu terjebak
asyik dalam perbincangan yang berkelanjutan, itu semua ternyata musiman. Musim
kabar darimu. Musim bercengkrama denganmu dan selayaknya musim, semua berganti
dan berputar. saat ini sedang musim tiada lagi kabar dari mu dan aku rasakan
kekosangan. Itu yang kusebut RINDU.
Kepada
seseorang, aku harap kamu tidak seperti aku yang terjebak oleh pikiranku. Jangan
kamu juga terjebak oleh kebebasanmu. Tadinya aku pikir membiarkan ini berjalan,
mengikuti alur rasa ini dan jika semua itu tidak melenceng pasti akan tiba
waktunya ketika kamu mengikatku dengan ikatan suci.
Sialnya,
aku sadar ini hanya hasil dari buah pikirku. Sekarang aku kembali membiarkan
waktu berputar dan mengikuti putarannya.
Kepada
seseorang, kamu ternyata seorang yang selalu aku inginkan namaun bukan
seseorang yang aku butuhkan. Kamu terlalu munafik untuk diriku yang terlau
polos ini. Aku yang selalu membiarkanmu mengabaikan rasa sakit yang sebenarnya
selalu aku rasakan.
Comments
apa kabar teman ?
hebat masih konsisten nulisnya
saya udh males buat ngeposting, terlena sama pensil dan sketch book :D
buat saya enak sekali bacanyaa, jujur, ngalir dan terutama proporsi di layar jg enak ra :D
emg selera saya kali yak ke blog yg isinya huruf semua, karena jelas apa yg dieksploitasi.
cuman beberapa penggunaan/pola penulisan aja ada yg kurang 'klik' (menurut selera saya)
overall sih chessy dan sweet sekali bacanya. hahahaa
kalo soal topik tulisan kata a titon jg ntar dianggap memberangus ide :D
jadi curhat gini, maklum lama gak nulis blog.
yg baca + komen ada sekar dan muti yah, tp ID nya gak familiar.
rasa2nya sama aja isi kepala temen2 se dekade, yg lagi takut head to head sama masa depan.
anyway, liat2 topiknya sampaikan salam ku buat kedewasaan anda yah :D
keep writing! lanjutkan ! cheers !
apa kabar juga teman?
senang rasanya membaca lagi komentar dari mu :D (anyway, terimakasih loh untuk masukkannya :))
hampir 3,5 tahun yang lalu ya, sejak kita dan yang lainnya menulis dan berkomentar mengenai masa dzalim pemerintah tentang ujian nasional sampai akhirnya tentang perpisahan diujung jalan. semuanya sejarah.
tulisan adalah bentuk ke-dua terindah dalam penyampaian kenangan ataupun sejarah, setelah foto atau gambar menurutku :D
salam juga dariku untuk pensil dan sketch book mu yang selalu bebas tanpa harus ada garis sebagai pembatas.
sukses juga teman! ditunggu kembali karya dari jemarimu di layar digital ini :D