hampir 18 tahun aku tinggal dilingkungan yang jika siang orang orang itu tidur, jika malam orang orang itu bangun, mencari nafkah katanya.
ibuku selalu berpesan, jangan nodai dirimu hanya karena uang. dari kecil aku disekolahkan ibu di madrasah, agar bisa menjaga diri katanya.
jika aku sedang bosan dirumah, aku keluar menengok dunia lingkungan rumah ku, aku duduk diwarung kopi, asap rokok mengepul di warung kopi itu, aku hanya makan bubur ketan hitam dan ditemani segelas teh hangat, sambil menjadi perokok pasif. sebenarnya aku sangat benci rokok, aku selalu menegur teman teman ku yang merokok, tapi kali ini tidak, aku membiarkannya, dan melihat orang orang itu menikmatinya. suara musik dangdut mulai disetel, orang orang mulai berdatangan, menikmati musik dangdut, berjoget, berpasangan. aku mulai tidak nyaman, aku pergi meninggalkan warung kopi itu, dan pulang kerumah. hmmmm seluruh badanku bau rokok, aku segera mandi dan ganti baju lalu pergi tidur.
ketika aku duduk di sekolah meningkat atas, aku dijadikan tempat curahan hati oleh teman teman ku, hingga dibuku kenangan kami, banyak pujian tentang aku, ucapan terimakasih atas aku, keberuntungan mempunyai teman seperti ku. aku pun bangga menjadi diriku seperti itu menurut teman temanku, tapi...
terkadang aku menyesali diriku, kenapa aku tidak bisa seperti yang lain, terbuka. teman temanku punya aku, dan aku pun punya mereka, tapi kenapa aku tidak bisa seperti mereka, aku terbiasa tidak menceritakan apa yang aku pikirkan, aku selalu merasa semua masalah aku bisa menghadapinya sendiri, aku selalu berpura pura tersenyum, ikut tertawa pada mereka, padahal hatiku pedih. sampai detik ini, aku masih menahan, cukuplah untuk diriku, ibuku meninggal setahun yang lalu, ayahku entah kemana sekarang. aku kembali ke warung kopi, seperti biasa disana ramai, ditemani lagi dengan bubur ketan hitam dan segelas teh hangat dan kali ini, disini aku benar benar menikmati asap itu, entah berapa batang dengan sukses aku hisap. musik dangdut mulai dinyalakan, kali ini aku terbawa suasana malam itu, aku menikmati malam itu. begitu seterusnya warung kopi itu bagian hidupku sekarang. aku berhasil melangkah ke dunia gelap ku. semakin hari aku menjadi semakin tercebur dalam kegelapan, aku selalu ingin yang lebih dan lebih lagi dari yang aku sudah coba sekarang, masalahku terbang dengan sendirinya. aku terus menikmatinya hingga aku dinyatakan positif terkena HIV AIDS. aku menulis catatan terakhirku di kertas ini...
****
tuhan, maafkan aku. Kau berikan tubuh yang sangat sempurna awalnya, tapi aku mengembalikan kepadamu tubuh yang rusak. aku tau ini salahku, dan benar kata orang "rokok itu jembatan menuju narkoba, pacaran itu jembatan menuju zina", aku tau ketika aku merokok aku melihat peringatan kecil dibelakangnya, tapi hanya aku baca. hmmm boleh aku bertanya sedikit Tuhan, jika benar rokok itu berbahaya kenapa masih diperjual belikan? jika benar berzinah itu dilarang lalu kenapa ada tempat lokalisasi? kenapa seakan akan semuanya diperbolehkan? dulu aku orang benar, tapi menjadi salah karena lingkungan yang salah, dan aku tidak bisa mengembalikan lagi semuanya dari awal. aku salah melangkahkan hidupku, maafkan aku tuhan, aku tertindas oleh lingkungan ku sendiri.
ibuku selalu berpesan, jangan nodai dirimu hanya karena uang. dari kecil aku disekolahkan ibu di madrasah, agar bisa menjaga diri katanya.
jika aku sedang bosan dirumah, aku keluar menengok dunia lingkungan rumah ku, aku duduk diwarung kopi, asap rokok mengepul di warung kopi itu, aku hanya makan bubur ketan hitam dan ditemani segelas teh hangat, sambil menjadi perokok pasif. sebenarnya aku sangat benci rokok, aku selalu menegur teman teman ku yang merokok, tapi kali ini tidak, aku membiarkannya, dan melihat orang orang itu menikmatinya. suara musik dangdut mulai disetel, orang orang mulai berdatangan, menikmati musik dangdut, berjoget, berpasangan. aku mulai tidak nyaman, aku pergi meninggalkan warung kopi itu, dan pulang kerumah. hmmmm seluruh badanku bau rokok, aku segera mandi dan ganti baju lalu pergi tidur.
ketika aku duduk di sekolah meningkat atas, aku dijadikan tempat curahan hati oleh teman teman ku, hingga dibuku kenangan kami, banyak pujian tentang aku, ucapan terimakasih atas aku, keberuntungan mempunyai teman seperti ku. aku pun bangga menjadi diriku seperti itu menurut teman temanku, tapi...
terkadang aku menyesali diriku, kenapa aku tidak bisa seperti yang lain, terbuka. teman temanku punya aku, dan aku pun punya mereka, tapi kenapa aku tidak bisa seperti mereka, aku terbiasa tidak menceritakan apa yang aku pikirkan, aku selalu merasa semua masalah aku bisa menghadapinya sendiri, aku selalu berpura pura tersenyum, ikut tertawa pada mereka, padahal hatiku pedih. sampai detik ini, aku masih menahan, cukuplah untuk diriku, ibuku meninggal setahun yang lalu, ayahku entah kemana sekarang. aku kembali ke warung kopi, seperti biasa disana ramai, ditemani lagi dengan bubur ketan hitam dan segelas teh hangat dan kali ini, disini aku benar benar menikmati asap itu, entah berapa batang dengan sukses aku hisap. musik dangdut mulai dinyalakan, kali ini aku terbawa suasana malam itu, aku menikmati malam itu. begitu seterusnya warung kopi itu bagian hidupku sekarang. aku berhasil melangkah ke dunia gelap ku. semakin hari aku menjadi semakin tercebur dalam kegelapan, aku selalu ingin yang lebih dan lebih lagi dari yang aku sudah coba sekarang, masalahku terbang dengan sendirinya. aku terus menikmatinya hingga aku dinyatakan positif terkena HIV AIDS. aku menulis catatan terakhirku di kertas ini...
****
tuhan, maafkan aku. Kau berikan tubuh yang sangat sempurna awalnya, tapi aku mengembalikan kepadamu tubuh yang rusak. aku tau ini salahku, dan benar kata orang "rokok itu jembatan menuju narkoba, pacaran itu jembatan menuju zina", aku tau ketika aku merokok aku melihat peringatan kecil dibelakangnya, tapi hanya aku baca. hmmm boleh aku bertanya sedikit Tuhan, jika benar rokok itu berbahaya kenapa masih diperjual belikan? jika benar berzinah itu dilarang lalu kenapa ada tempat lokalisasi? kenapa seakan akan semuanya diperbolehkan? dulu aku orang benar, tapi menjadi salah karena lingkungan yang salah, dan aku tidak bisa mengembalikan lagi semuanya dari awal. aku salah melangkahkan hidupku, maafkan aku tuhan, aku tertindas oleh lingkungan ku sendiri.
Comments