jakarta tanpa matahari memang aneh rasanya. beberapa hari kebelakang matahari ragu untuk menammpakkan sinarnya yang hangat. langit menjadi kelabu, air tak kunjung turun, suara suara yang menggelegar mulai berkeliaran.
tiga hari terakhir ujian. tiga hari terakhir untuk semester satu. tak henti hentinya para mahasiswa sibuk mencari kisi kisi untuk keesokan harinya atau bukan kisi kisi namanya, sedikit bocoran, mungkin.
aku melihat wajah wajah bahagia, suram, sendu, kesal, setelah keluar ruang ujian. kebahagiaan atas kesuksesannya, sisanya hanya penyesalan. keluar dari ruang ujian berkumpul menjadi satu kelompok, membahas soal soal, namun ada juga yang berusaha menghindari pembicaraan tersebut karena kesalahannya. tapi ya namanya juga manusia, terbawa arus, obrolan pun terus mengalir, padahal sebagian mengukir kepahitan dalam dirinya.
tapi hari ini berbeda, hari terakhir yang aneh, mata kuliah yang paling menentukan untuk kami, mahasiswa Teknik Informatika, Algoritma dan Pemograman. belum ada keributan di luar sana setelah 40 menit pertama, semua masih fokus pada soal. ada yang mengerinyitkan muka, mengacak ngacak rambut, menengok kebelakang, melirik dan berbisik. namun, aku masih konsentrasi dengan apa yang aku kerjakan. semuanya berjalan dengan lancar sampai akhirnya aku merasa susah untuk bernapas, ada sesuatu di hidungku, sesuatu yang mengganjal, sesuatu yang menggumpal, ingin aku keluarkan, tapi takut membuat keributan baru, akhirnya aku tahan, mencoba bernapas lewat mulut, merasa tidak normal sementara.
merasa kesuliatan mulai memuncak, napas tidak teratur, aku memutuskan keluar dari ruangan, lalu membuang semuanya di luar. lima menit setelah aku keluar, koridor kampus mulai ramai, ada yang menyatakan "aduuh, gw SP nih.." ada juga yang bilang "gw gk blh SP coy", tapi ada juga yang berteriak "anjirr gw SP donk coyy, lo semua pada payah gk SP", aku menatap bingung pada pemuda itu, entah kebanggaan macam apa yang dia miliki. aku tetap tersenyum jika ada teman seperti itu, mendukung kebanggaanya, mungkin, atau sedikit memberi dukungan moril pada teman yang merasa jatoh pada mata kuliah tersebut, entah kenapa yang selalu keluar dari mulutku "udahh sabar yaa" sambil memegang pundaknya memberi sedikit kekuatan. tapi itulah kami, MAHASISWA.
tiga hari terakhir ujian. tiga hari terakhir untuk semester satu. tak henti hentinya para mahasiswa sibuk mencari kisi kisi untuk keesokan harinya atau bukan kisi kisi namanya, sedikit bocoran, mungkin.
aku melihat wajah wajah bahagia, suram, sendu, kesal, setelah keluar ruang ujian. kebahagiaan atas kesuksesannya, sisanya hanya penyesalan. keluar dari ruang ujian berkumpul menjadi satu kelompok, membahas soal soal, namun ada juga yang berusaha menghindari pembicaraan tersebut karena kesalahannya. tapi ya namanya juga manusia, terbawa arus, obrolan pun terus mengalir, padahal sebagian mengukir kepahitan dalam dirinya.
tapi hari ini berbeda, hari terakhir yang aneh, mata kuliah yang paling menentukan untuk kami, mahasiswa Teknik Informatika, Algoritma dan Pemograman. belum ada keributan di luar sana setelah 40 menit pertama, semua masih fokus pada soal. ada yang mengerinyitkan muka, mengacak ngacak rambut, menengok kebelakang, melirik dan berbisik. namun, aku masih konsentrasi dengan apa yang aku kerjakan. semuanya berjalan dengan lancar sampai akhirnya aku merasa susah untuk bernapas, ada sesuatu di hidungku, sesuatu yang mengganjal, sesuatu yang menggumpal, ingin aku keluarkan, tapi takut membuat keributan baru, akhirnya aku tahan, mencoba bernapas lewat mulut, merasa tidak normal sementara.
merasa kesuliatan mulai memuncak, napas tidak teratur, aku memutuskan keluar dari ruangan, lalu membuang semuanya di luar. lima menit setelah aku keluar, koridor kampus mulai ramai, ada yang menyatakan "aduuh, gw SP nih.." ada juga yang bilang "gw gk blh SP coy", tapi ada juga yang berteriak "anjirr gw SP donk coyy, lo semua pada payah gk SP", aku menatap bingung pada pemuda itu, entah kebanggaan macam apa yang dia miliki. aku tetap tersenyum jika ada teman seperti itu, mendukung kebanggaanya, mungkin, atau sedikit memberi dukungan moril pada teman yang merasa jatoh pada mata kuliah tersebut, entah kenapa yang selalu keluar dari mulutku "udahh sabar yaa" sambil memegang pundaknya memberi sedikit kekuatan. tapi itulah kami, MAHASISWA.
Comments
yah dia kan gue yang ngajarin. kemaren smsan, bahaha.
nilai praktikum akhir untuk sumbangan nilai akhir cuma 9.96 dari 20 ra. kesel gw, tapi gw juga mahasiswa coy. hehe
hehehe..
btw, ra, pokoknya harus nonton bareng2 lagi yang kambing jantannya!
yang murah meriah lhaa.. layar tancep! wkwkwkw
@muti,, haha..ogahh ahh layar tancep mah, mending bli vcd bajakan trus ntn di rumah..haha