Skip to main content

LOMBOK: LOVE & LAUGH

Penantian rencana berbulan-bulan yang lalu, sejak kami dipertemukan di tempat ini. Berlibur, menginjakan kaki, dan menghirup udara di tanah timur. Kegelisahan akan rencana yang pasti tapi tidak pasti berganti menjadi letupan gairah bisa melepaskan diri sesaat dari hutan kota yang sesak.

18.20 - Tanah jawa yang mulai terlihat kecil dari atas langit sini. Lampu-lampu kota yang berkelap-kelip, melambaikan selamat jalan dan menitipkan salam untuk tanah timur. Akhirnya, perjalanan pertama dimulai, Lombok! Here we go..

Jamuan Ikan Bakar
Kami beriringan menelusuri terusan jalan Motong Baan, Lombok Timur. Dua vespa menjadi andalan perjalanan pertama. Menjelang matahari terbenam, udara di sana semakin dingin. Kami melewati jalan kecil yang berkelok-kelok dan hamparan sawah hijau di kiri kanan kami. 

Sampai di tempat yang dituju, motor kami parkir di kiri jalan samping sawah. Ada jalan setapak kecil dan pengairan kecil di kanan sawah, kami lewati jalan setapak itu. Langkah kami sedikit cepat, agar tak bertemu sang gelap. Lalu kami berbelok di jalan setapak bekas tebasan tanaman liar, ditengahnya ada beberapa empang, berisi ikan-ikan besar yang siap disantap. Teman-teman disana menyambut kami, salam perkenalan, percakapan basa-basi mengiringi sisa senja. Kami pun bersiap menanti makan besar. Sebagian ada yang menangkap ikan, menyiapkan pembakaran, menikmati sop buah untuk ganjalan lapar, ada juga yang memainkan gitar sebagai bumbu kecerian.

Datangnya gelap, pertanda pesta dimulai! Ikan-ikan dari segala ukuran memenuhi tengah meja. Suara jangkrik di sekeliling kami menciptakan romantisme khas Lombok Timur. Sambal beberuk khas Lombok membuat suasana semakin panas, tangan-tangan berebutan lauk, mulut yang tak berhenti melahap hingga kami mengelus perut kekenyangan.

Hal rindu nomer 1 di lombok: Makan ikan, ikan, ikan, ikan, sambel.

Selong Belanak - Pantai Mawun, Lombok Barat
Kali ini perjalanan yang sedikit jauh, jika ditarik level ada di level medium. Petua pepatah yang bilang "Bersakit-sakit dahulu, berenang-renang kemudian" berlaku disini. Terik menyengat matahari dikulit, debu-debu jalanan lombok menjadi alas bedak kami, tapi sajian alam lombok tetap sebagai pemenangnya. Jalan raya kota lombok yang tidak seramai kota Jakarta dan penduduknya yang masih santai. (Semoga tetap seperti ini, tidak dikuasai kaum kapitalis). 

Memasuki wilayah Lombok Barat, kami disajikan pemadangan gersang yang konsisten, jalanan yang masih berliku dan sedikit menanjak, hingga kami tiba di surga Lombok pertama : Pantai Selong Belanak. 


Terik matahari, suara deburan ombak, pasir putih, laut biru! Ah nikmat Tuhan mana lagi yang kita dustakan. Pantai ini masih terhitung sepi, belum banyak wisatawan yang tau tempat ini. Kami letakkan barang-barang kami dekat warung di pinggir pantai. Ombak yang cukup tinggi disana menggoda kami untuk bermain bersama. Sengaja kami mendekati ombak, menggoda balik godaannya. Tapi dihempasnya kami hingga terseret ke arah pantai seakan ingin menunjukan siapa yang paling jahil disitu. Tapi kami tidak menyerah, kami kejar lagi sang ombak, kami menantang ombak yang paling besar, lalu kembali diseretnya. Hingga kami terbatuk-batuk tapi tetap tersenyum bahagia. Begitu seterusnya hingga hingga lelah mulai terasa, dan harus segera berkemas karena ada kejutan dari alam Lombok selanjutnya.

Masih di jalan yang berliku-liku menuju kejutan Lombok Barat selanjutnya. Bukan lagi sajian pemandangan gersang, namun hamparan bukit-bukit telettubies berjejer gagah di kiri kanan kami. Puji Tuhan. Sinar matahari yang mulai berdamai, memberikan penerangan alami yang sempurna ditengah-tengah bukit. Teriakan kekaguman tanpa henti untuk tanah Ibu Pertiwi yang satu itu.

Dan ini, kejutan kedua dari Lombok Barat. Pantai Mawun. Subhanallah. Ombak disini tidak semenggoda di Selong Belanak. tapi sajian Pantai Mawun mengajak kami merenung untuk semua yang terjadi hari itu. Duduk di pinggir pantai, ditemani pesona senja, merasakan semilir angin, dan racikan alami Es kelapa telah menjadi rumusan yang sempurna. Terimakasih Tuhan :)

Hal Rindu ke 2 di Lombok: Hidden Beach, laut biru, pasir putih, dan senja di Lombok Barat 

Rinjani (Sembalun) - Gili Trawangan
Ketika semua dibatasi oleh waktu, maka kami lah penguasa waktu. Setelah badan terasa cukup untuk bergerak dan perut sudah diisi sebagai bekal untuk perjalanan lebih jauh dari biasanya. Jadi rencananya begini; Kami akan ke Gili Trawangan, menyebrang dari pelabuhan Bangsal. Jarak tempuh dari Montong Baan, Lombok Timur ke Pelabuhan Bangsal sekitar 60 KM / 1,5 jam (yess deket!). 

Tapi ternyata tidak semudah atau sedekat itu bagi kami menuju gili trawangan, Sang pengatur perjalanan mengambil rute lain, rute yang lebih jauh, rute yang tidak kami bayangkan sebelumnya. Pukul 11.00 waktu Lombok, Dari Montong Baan kami bergerak menuju kawasan hutan lindung Rinjani, di kiri kanan kami hanya ada pohon, pohon, dan pohon yang ditengahi jalan yang sudah di aspal untuk akses menuju pos pendakian Rinjani. Sesekali ada monyet-monyet yang bebas berkeliaran dari pohon ke pohon, dari pohon ke jalan lalu ke pohon lagi. Sampai akhirnya pemandangan hutan lindung tidak lagi terlihat, hanya jalanan yang terus menanjak dan disini. Selamat datang di jalanan tertinggi di Lombok, Lembah Sembalun.


Tanpa terlalu lama berhenti disana, kami kembali melanjutkan perjanan. Kali ini kiri kanan kami dihiasi lukisan hijau jari-jari Gunung Rinjai. Puji Tuhan. Hamparan perkebunan warga setempat, segerombolan para pendaki, meyakinkan saya ini bukan mimpi. Setidaknya kaki ini sudah menginjak ujung jempol Gunung Rinjani

Perjalanan masih berlanjut, bukan lagi perut yang berdemo kelaparan, tapi juga pantat yang sudah mulai teriak kesesakan, dan punggung yang mulai lelah menopang. Tapi kami saling menguatkan satu sama lain, sesekali berteriak untuk mengembalikan letupan semangat, sesekali tertawa apapun yang bisa ditertawakan, menjauhi pikiran yang terus bertanya "Udah sampe mana?Seberapa jauh lagi?Kapan kita sampai?"

Tapi sajian alam Lombok memang tak ada dua. Bayangkan, kami masih diatas bukit, tiba-tiba disudut mata kami ada hamparan biru yang sangat luas. Langit? Bukan itu bukan langit, itu laut! Subhanallah. Kalau bermain logika, jika kami sudah bertemu laut, berarti sebentar lagi bertemu hamparan pantai, pertanda kami sudah berada di paling pinggir pulau Lombok, pertanda sebentar lagi kita sampai di pelabuhan Bangsal. Saat itu pukul 15.30 waktu Lombok, gairah semangat 45 kembali lagi. Tapi setengah jam kemudian, kiri kami seperti di afrika, kembali lagi sajian tanah gersang, sebelah kanan kami masih pantai. Tik Tok Tik Tok Tik Tok.. Setengah jam kemudian lagi jalan raya mulai ramai, sudah tidak lagi asik suasana disana, terasa sesak dan gaduh, rasa lelah dan sabar beradu siapa yang paling kuat. Sampai akhirnya sang pengatur jalan berteriak "BELOK KANAN!". Kami pun berbelok, dan ada gapura kemengan disitu "Selamat Datang di Pelabuhan Bangsal".

Pukul 17.00 waktu Lombok, akhirnya kami tiba di Pelabuhan Bangsal. Setelah 7 jam perjalanan yang super lelahnya dan super serunya. Beruntungnya masih ada kapal terakhir yang siap berangkat menuju Gili Trawangan. Dari Pelabuhan Bangsal ke Gili Trawangan butuh waktu 45 - 60 menit, lumayan untuk memejamkan mata sebentar.

Pukul 17.50, dari kejauhan sudah mulai terlihat hamparan pasir putih dan lampu-lampu yang berkelap kelip. Kapal pun mulai menepi, seperti ada teriakan sambutan dari Gili Trawangan untuk kami, teriakan yang berbeda dari wisatawan yang lainnya, karena kami lebih special.
Tidak kalah dengan ratusan wisatawan asing yang merasa lebih menikmati keindahan alam Lombok, Setelah kami membeli makan untuk bekal di Hotel yang sudah kami rencanakan untuk menghabiskan sisa malam di Gili Trawangan. Sebuah hotel yang hanya disediakan untuk kami. Dengan pemandangan laut di depan kami, api unggun sebagai penyempurna kehangatan kami, suara ombak sebagai pengiring romantisme, dan ribuan bintang yang terlihat sangat jelas di atap kami. Luar biasa, Puji Tuhan, Subhanallah.

Hal Rindu ke 3 di Lombok, pemandangan alam, suasana pantai, dan beberapa batang ketenangan

****

Apapun yang terjadi di lombok, tidak untuk kami tinggalkan disana. Akan kami terus bawa, sampai kemanapun kaki ini melangkah selanjutnya. Bukan liburan biasa yang kami jalankan disana, ada cinta, keluarga baru, tawa, dan bahagia bersama.

Terimakasih untuk teman saya, Nyos dan keluarga (Mamak, Bapak, Ami, Mas Buyung), teman-teman yang lain (mas limpung, cebong, febri, aji, novi, ajiz), dan terutama terimakasih untuk pangeran bervesapa saya, sang maha perjalanan (Jawa, Bali, Lombok) yang hatam dilewati dengan vespanya.  Tidak pernah terbayang menjelajahi tanah timur bersama mereka. 
Sekali lagi, terimakasih Tuhan.


Comments

Popular posts from this blog

hanya ingin menulis

membaca tulisan orang membaca komentar orang memberikan saya banyak makna akhirnya timbul gejolak-gejolak dalam hati dan butuh tempat untuk menuangkan semuanya tidak peduli apa kata orang karena saya hanya ingin menulis

SAYANGI TUBUH, LEWAT KULIT YANG SEHAT

Hadir di talkshow NIVEA hari Jumat lalu, banyak hal baru yang cukup menampar saya sebagai pribadi yang selama ini menganggap remeh sinar matahari dan kesehatan kulit sendiri. Saya ini termasuk tipe yang sangat cuek untuk menggunakan tabir surya setiap harinya, walaupun harus beraktivitas diluar ruangan . Padahal menggunakan tabir surya tetap penting digunakan untuk aktivitas di dalam ataupun di luar ruangan. Matahari adalah sumber daya alam paling  penting untuk tubuh kita. Kenapa? Selain vitamin D, sinar matahari membantu menstimulasi sistem kekebalan tubuh, memperkuat pernapasan, melancarkan aliran darah dan sirkulasi metabolisme tubuh kita. Tapi ternyata, jika tidak diimbangi dengan perlindungan kulit, sinar matahari bisa berdampak negatif. Kulit sebagai lapisan pertama di tubuh yang menerima sinar matahari langsung, perlu perlindungan tambahan agar tidak merusakan jaringan kulit yang dapat menyebabkan penuaan dini pada kulit. Semakin kita cuek untuk merawat kesehat...

saint loco-santai saja

Mungkin kau kecewa Semua datang yang tak kau minta Namun ini semua kenyataan kita Waktu kita lelah dalam menjalani Semua macam kisah dalam hidup ini Kadang kita lemah hanya mampu untuk pasrah Saat kenyataan ga sejalan dengan harapan Saat keyakinan hilang dalam kepahitan Tetaplah tabah setidaknya kau mencoba Menjadi lebih baik dalam jalani hidup ini Janganlah resah tiada waktu menjawabnya Kau harus bersabar Semua indah pada waktunya Santai saja kawan Ikuti kata hati biarkan sedihmu berlalu Kau pasti bisa Menjadi suatu hari dengan pagi yang baru Tenang saja kawan Hadapilah semua Kau harus bersabar Semua indah pada waktunya Santai saja kawan Ikuti kata hati biarkan sedihmu berlalu Kau pasti bisa Menjadi suatu hari dengan pagi yang baru Tenang saja kawan Hadapilah semua