"Hidup itu main. Ketika main kita hidup. Tapi hidup bukan main-main. Jadi jangan main-main dengan kehidupan. Karena hidup adalah permainan tapi bukan untuk main-main"
Kita adalah bagian dari waktu. Semua yang kita lakukan, tawa, sedih, senang, susah, semangat. Yang semua pada akhirnya menuju sebuah titik lelah. Tapi bukan lelah untuk hidup.
Bagi saya, perjuangan dan kebahagiaan itu seperi siang dan malam. Di siang hari orang-orang diseluruh belahan dunia, mengadu, berjuang untik nasib mereka. Menghapiri masalah, lalu tinggal dengan solusi. Menjadi analis lalu berfikir kreatif. Dan semesta dengan keagunganya melukiskan langit yang mereka sebut, senja. Saat itu, oksigen dari nirwana turun ke bumi memberi ketenangan.
Satu persatu bintang mulai muncul, begitupun dengan bulan yang tak mau kalah. Saya menyebutnya "waktu santai". Kami pun punya cara masing-masing untuk menikmatinya. Tapi pernahkah kalian merasa ketika seluruh badan kita bahkan sampai kebagian dalamnya, menjerit kelelahan, menuntut istirahat, tapi tetap ada hasrat untuk menghabiskan malam hingga pagi buta, untuk sesuatu yang mungkin belum tentu terjadi besoknya atau 2 hari setelahnya, bahkan setaun setelahnya.
Tak jarang segala cara untuk merayu tubuh ini agar kembali diam dalam jeritnya. Apa caranya? Masih kenikmatan nakal masa muda. Membawa tubuh ini kedunia baru. Sesuatu hal yang dingin padahal pait ketika di kerongkongan, panas dilambung, lalu naik ke otak dan membuat dunia baru.
Ada cerita untuk dunia baru ini, yang terkadang tiba-tiba datang saat kondisi ini. Bisa tiba-tiba tertawa, tapi entah apa penyebabnya. Bisa tiba-tiba sedih, tapi juga entah apa sebabnya. Mereka seperti sesuatu yg lama terpendam, lalu kembali bergentayangan seperti hantu. Ya gentayangan, karena itu akan hilang kembali, seperti vampire yg takut sinar matahari.
Mereka bilang hidup ini punya tujuan. Segala sesuatunya harus dijalani serius, katanya. Jika gagal lalu kecewa, itu kesuksesan yang tertunda, katanya. Tapi saya sedang tidak mau membicarakan teori itu. Terlalu robotic. Seperti rumus, IF (serius =1, 1=sukses), ELSE (gagal, gagal=0). Hidup ini bagaimana soal menerima kan? Nah bagi saya masih atau untuk saat ini, saya main untuk hidup, lalu hidup untuk main.
Kita adalah bagian dari waktu. Semua yang kita lakukan, tawa, sedih, senang, susah, semangat. Yang semua pada akhirnya menuju sebuah titik lelah. Tapi bukan lelah untuk hidup.
Bagi saya, perjuangan dan kebahagiaan itu seperi siang dan malam. Di siang hari orang-orang diseluruh belahan dunia, mengadu, berjuang untik nasib mereka. Menghapiri masalah, lalu tinggal dengan solusi. Menjadi analis lalu berfikir kreatif. Dan semesta dengan keagunganya melukiskan langit yang mereka sebut, senja. Saat itu, oksigen dari nirwana turun ke bumi memberi ketenangan.
Satu persatu bintang mulai muncul, begitupun dengan bulan yang tak mau kalah. Saya menyebutnya "waktu santai". Kami pun punya cara masing-masing untuk menikmatinya. Tapi pernahkah kalian merasa ketika seluruh badan kita bahkan sampai kebagian dalamnya, menjerit kelelahan, menuntut istirahat, tapi tetap ada hasrat untuk menghabiskan malam hingga pagi buta, untuk sesuatu yang mungkin belum tentu terjadi besoknya atau 2 hari setelahnya, bahkan setaun setelahnya.
Tak jarang segala cara untuk merayu tubuh ini agar kembali diam dalam jeritnya. Apa caranya? Masih kenikmatan nakal masa muda. Membawa tubuh ini kedunia baru. Sesuatu hal yang dingin padahal pait ketika di kerongkongan, panas dilambung, lalu naik ke otak dan membuat dunia baru.
Ada cerita untuk dunia baru ini, yang terkadang tiba-tiba datang saat kondisi ini. Bisa tiba-tiba tertawa, tapi entah apa penyebabnya. Bisa tiba-tiba sedih, tapi juga entah apa sebabnya. Mereka seperti sesuatu yg lama terpendam, lalu kembali bergentayangan seperti hantu. Ya gentayangan, karena itu akan hilang kembali, seperti vampire yg takut sinar matahari.
Mereka bilang hidup ini punya tujuan. Segala sesuatunya harus dijalani serius, katanya. Jika gagal lalu kecewa, itu kesuksesan yang tertunda, katanya. Tapi saya sedang tidak mau membicarakan teori itu. Terlalu robotic. Seperti rumus, IF (serius =1, 1=sukses), ELSE (gagal, gagal=0). Hidup ini bagaimana soal menerima kan? Nah bagi saya masih atau untuk saat ini, saya main untuk hidup, lalu hidup untuk main.

Comments