hari ini adalah hari besar untuk keluarga besar kami. 31 Agustus 2011, kami sekeluarga besar berkumpul disalah satu rumah keluarga dikawasan bintaro. acara silaturahim dalam rangka bersyukur bertemu kembali dengan hari kemenangan, kembali fitri dan membuka lembaran baru dan catatan kehidupan baru.
sudah tua ternyata aku sekarang. 28 Agustus 2011 lalu, genap sudah usiaku 21 tahun. rekan sesaudaraku pun begitu, dulu kami mengantre untuk mendapat thr, tapi hari ini duduk manis, cuek-santai, tapi berharap. saat itu kerap anak-anak berlari, wajah polos mereka, tawa tulus mereka dan teriak riang mereka menjadi warna baru dalam keluarga besar kami. ya aku bukanlah anak-anak lagi hari ini, obrolan pun mulai terarah. "kapan lulus?", "siapa pacarnya sekarang?", "sukses ya kuliahnya, biar langsung nikah muda".
rekan sesaudaraku ada yang baru menempuh hidup barunya baru-baru ini. bertambahlah satu keluarga baru dikeluarga besarku. kebetulan akupun terlibat dalam persiapannya. mereka pasangan yang sangat serasih. judulnya "cinta mereka bersemi sejak SMA". selayaknya orang yang merayakan sesuatu yang hanya terjadi sekali seumur hidup, beberapa foto dan video pun menjadi kenangan untuk hari bahagia itu.
kebetulan aku membantu dalam penerimaan tamu, sehingga terpaksa pada prosesi akad nikah aku tidak dapat mengikuti acara tersebut, karena harus segera berias untuk persiapan resepsi pada sore harinya. hari bahagia mereka yang dirangkum dalam video, diputar pada hari kemenangan ini. aku memperhatikan bagaimana prosesi akad nikah berlangsung. dari awal video itu diputar, yang aku rasakan hanya rasa bahagia melihat semua itu berjalan indah. namun mulai diakhir video...
tayangan adat sungkeman dari pengantin kepada orang tua. disitu aku tidak lagi hanya merasa bahagia, tapi disitu aku merasa jiwa dan hatiku bergetar, merinding, membayangkan aku yang berada disitu. entah kepada lelaki terbaik siapa nanti aku dipasangkan, aku hanya membayangkan ayah dan (alm ibu) disana. bisakah ibu hadir di hari bahagia ku nanti? membayangka aku yang berucap beribu terimakasih untuknya. membayangkan diri ini menyalami tangannya, bersujud dipangkuannya, lalu memeluknya dengan erat. ibu..
sesaat dulu ketika aku dapat menerima kepergian mu, tidak pernah aku sangka tiada akan ada lagi nasihat-nasihat mu saat aku akan menikah kelak, tiada lagi senyum gusar mu saat melepasku menjadi istri dari lelaki yang terbaik, tiada lagi senyum bahagia dan bangga mu yang dapat aku lihat nanti. dan tiada lagi tempat dimana aku dapat memohon doa restu darimu lalu memeluk tubuhmu dengan erat.
bahagiaku selalu untuku mu bu..
air matakupun mulai berlinang. hampir tak sanggup aku membendungnya. aku usap perlahan agar tidak terlihat.
"ibu...terimakasih, doakan aku agar dapat menjadi seperti dirimu. menjadi seperti dirimu yang menjaga suamimu, menjadi seperti dirimu yang menjaga anak-anakmu. menjadi seperti dirimu yang telah menjadi wanita terbaik di hati kami semua"
sudah tua ternyata aku sekarang. 28 Agustus 2011 lalu, genap sudah usiaku 21 tahun. rekan sesaudaraku pun begitu, dulu kami mengantre untuk mendapat thr, tapi hari ini duduk manis, cuek-santai, tapi berharap. saat itu kerap anak-anak berlari, wajah polos mereka, tawa tulus mereka dan teriak riang mereka menjadi warna baru dalam keluarga besar kami. ya aku bukanlah anak-anak lagi hari ini, obrolan pun mulai terarah. "kapan lulus?", "siapa pacarnya sekarang?", "sukses ya kuliahnya, biar langsung nikah muda".
rekan sesaudaraku ada yang baru menempuh hidup barunya baru-baru ini. bertambahlah satu keluarga baru dikeluarga besarku. kebetulan akupun terlibat dalam persiapannya. mereka pasangan yang sangat serasih. judulnya "cinta mereka bersemi sejak SMA". selayaknya orang yang merayakan sesuatu yang hanya terjadi sekali seumur hidup, beberapa foto dan video pun menjadi kenangan untuk hari bahagia itu.
kebetulan aku membantu dalam penerimaan tamu, sehingga terpaksa pada prosesi akad nikah aku tidak dapat mengikuti acara tersebut, karena harus segera berias untuk persiapan resepsi pada sore harinya. hari bahagia mereka yang dirangkum dalam video, diputar pada hari kemenangan ini. aku memperhatikan bagaimana prosesi akad nikah berlangsung. dari awal video itu diputar, yang aku rasakan hanya rasa bahagia melihat semua itu berjalan indah. namun mulai diakhir video...
tayangan adat sungkeman dari pengantin kepada orang tua. disitu aku tidak lagi hanya merasa bahagia, tapi disitu aku merasa jiwa dan hatiku bergetar, merinding, membayangkan aku yang berada disitu. entah kepada lelaki terbaik siapa nanti aku dipasangkan, aku hanya membayangkan ayah dan (alm ibu) disana. bisakah ibu hadir di hari bahagia ku nanti? membayangka aku yang berucap beribu terimakasih untuknya. membayangkan diri ini menyalami tangannya, bersujud dipangkuannya, lalu memeluknya dengan erat. ibu..
sesaat dulu ketika aku dapat menerima kepergian mu, tidak pernah aku sangka tiada akan ada lagi nasihat-nasihat mu saat aku akan menikah kelak, tiada lagi senyum gusar mu saat melepasku menjadi istri dari lelaki yang terbaik, tiada lagi senyum bahagia dan bangga mu yang dapat aku lihat nanti. dan tiada lagi tempat dimana aku dapat memohon doa restu darimu lalu memeluk tubuhmu dengan erat.
bahagiaku selalu untuku mu bu..
air matakupun mulai berlinang. hampir tak sanggup aku membendungnya. aku usap perlahan agar tidak terlihat.
"ibu...terimakasih, doakan aku agar dapat menjadi seperti dirimu. menjadi seperti dirimu yang menjaga suamimu, menjadi seperti dirimu yang menjaga anak-anakmu. menjadi seperti dirimu yang telah menjadi wanita terbaik di hati kami semua"
Comments