#2 hujan jangan marah-efek rumah kaca
"lihatkah?aku pucat pasi, sembilu hisapi jemari
setiap ku peluk dan menangisi hijau pucatnya cemara
yang sedih aku letih
dengarkah? jantungku menyerah, terbelah di tanah yang merah
gelisah dan hanya suka bertanya pada musim kering
melemah dan melemah
hujan, hujan jangan marah..."
ketika ku mulai menunggu waktu, menghitung tiap detik dan menitnya.
menunggu surutnya air yang lamban
aku mulai melupakan bagian lain dari duniaku
petir mengagetkan ku, menyadarkan ku
tapi tidak ada yang ajaib setelah itu
yang kulihat hanya langit yang sendu dan awan yang kelabu
angin yang ribut pun merubah kesenduan menjadi mengerikan
hujan pun tidak turun dengan damai kali ini
angin dan hujan membuat satu kekuatan besar
gelisah dan hanya suka bertanya pada musim kering
khawatir hujan ini membuat musibah baru,
belum selesai harapan ku agar air surut,
malah menyiutkan nyaliku
hujan, hujan jangan marah
"lihatkah?aku pucat pasi, sembilu hisapi jemari
setiap ku peluk dan menangisi hijau pucatnya cemara
yang sedih aku letih
dengarkah? jantungku menyerah, terbelah di tanah yang merah
gelisah dan hanya suka bertanya pada musim kering
melemah dan melemah
hujan, hujan jangan marah..."
ketika ku mulai menunggu waktu, menghitung tiap detik dan menitnya.
menunggu surutnya air yang lamban
aku mulai melupakan bagian lain dari duniaku
petir mengagetkan ku, menyadarkan ku
tapi tidak ada yang ajaib setelah itu
yang kulihat hanya langit yang sendu dan awan yang kelabu
angin yang ribut pun merubah kesenduan menjadi mengerikan
hujan pun tidak turun dengan damai kali ini
angin dan hujan membuat satu kekuatan besar
gelisah dan hanya suka bertanya pada musim kering
khawatir hujan ini membuat musibah baru,
belum selesai harapan ku agar air surut,
malah menyiutkan nyaliku
hujan, hujan jangan marah
Comments