ketika saya lagi membaca salah satu blog yang suka suka baca, diantara beberapa poin tulisannya, ada yang menarik mata saya dan membuat saya berfikir sejenak merenungkan jawaban menurut pikiran saya.
"jika pertemuan seseorang direncanakan oleh “nasib” apakah perpisahan juga seperti itu? Dan jika iya, siapa yang bisa disalahkan?"-http://radityadika.com/dan-di-saat-ini-gue-berpikir-atas-hal-hal-yang-tidak-jelas/-
pertanyaan itu menurut saya sama artinya dengan beberapa pertanyaan yang pernah muncul dalam pikiran saya.
seperti:
1. kenapa saya tidak sempat merasakan kasih sayang terakhir dari ibu saya,saya hanya diberi kesempatan melihatnya tergetak lemah di rumah sakit dan setelah itu tidur pulas menuju kedamaian
2. kenapa setiap tahun rumah saya kebanjiran lalu surut lagi lalu banjir lagi lalu surut lagi lalu banjir begitu seterusnya
3. kenapa hp saya bisa hilang padahal itu saya beli menggunakan uang saya sendiri
4. kenapa masih ada perang di zaman seperti ini, memang sudah tertuliskan di dalam Al-Qur'an tentang yahudi dan kerakusannya, tapi kenapa masih dibiarkan terjadi menyaksikan berjuta juta manusia ketakutan, mati, darah dimana-mana, perjuangan pun tak henti-hentinya, dukungan dari ribuan manusian sedunia pun tak pernah padam, tapi kenapa harus terjadi padahall sudah terbaca
5. jika memang hari kiamat merupakan sebuah akhir lalu apa lagi yang harus ditunggu, pasrah?mimpi?
harus berpikir religi memang ditambah dengan pikiran realistis.
jika bertanya siapa yang harus disalahkan, tidak ada yg bisa disalahkan,kenapa?karena memang begitu adanya, mau sampai kapan menyalahkan diri sendiri atau orang lain, tidak ada untungnya jika tidak membawa perubahan. lalu penyesalan?merasa rugi kah telah menyesal?seharusnya tidak, saya rasa kesalahan, penyesalan, kebahagiaan, kekalahan, kesedihan, kesuksesan dan lain-lain semuanya bagian dari hidup yang memang sudah ada yang mengatur, itulah mengapa Tuhan itu ada. semuanya membawa kita menjadi manusia super. tidak ada yang sia-sia. let it the flow.
"jika pertemuan seseorang direncanakan oleh “nasib” apakah perpisahan juga seperti itu? Dan jika iya, siapa yang bisa disalahkan?"-http://radityadika.com/dan-di-saat-ini-gue-berpikir-atas-hal-hal-yang-tidak-jelas/-
pertanyaan itu menurut saya sama artinya dengan beberapa pertanyaan yang pernah muncul dalam pikiran saya.
seperti:
1. kenapa saya tidak sempat merasakan kasih sayang terakhir dari ibu saya,saya hanya diberi kesempatan melihatnya tergetak lemah di rumah sakit dan setelah itu tidur pulas menuju kedamaian
2. kenapa setiap tahun rumah saya kebanjiran lalu surut lagi lalu banjir lagi lalu surut lagi lalu banjir begitu seterusnya
3. kenapa hp saya bisa hilang padahal itu saya beli menggunakan uang saya sendiri
4. kenapa masih ada perang di zaman seperti ini, memang sudah tertuliskan di dalam Al-Qur'an tentang yahudi dan kerakusannya, tapi kenapa masih dibiarkan terjadi menyaksikan berjuta juta manusia ketakutan, mati, darah dimana-mana, perjuangan pun tak henti-hentinya, dukungan dari ribuan manusian sedunia pun tak pernah padam, tapi kenapa harus terjadi padahall sudah terbaca
5. jika memang hari kiamat merupakan sebuah akhir lalu apa lagi yang harus ditunggu, pasrah?mimpi?
harus berpikir religi memang ditambah dengan pikiran realistis.
jika bertanya siapa yang harus disalahkan, tidak ada yg bisa disalahkan,kenapa?karena memang begitu adanya, mau sampai kapan menyalahkan diri sendiri atau orang lain, tidak ada untungnya jika tidak membawa perubahan. lalu penyesalan?merasa rugi kah telah menyesal?seharusnya tidak, saya rasa kesalahan, penyesalan, kebahagiaan, kekalahan, kesedihan, kesuksesan dan lain-lain semuanya bagian dari hidup yang memang sudah ada yang mengatur, itulah mengapa Tuhan itu ada. semuanya membawa kita menjadi manusia super. tidak ada yang sia-sia. let it the flow.
Comments
Tuhan mau melihat seberapa mampu kita bertahan .
Subhanallah lah pokonya mah..
daripada pusing2.